darmansyah

Jumat, 01 Juni 2012

Proposal Mata Kuliah Penelitian TP



TUGAS
MATA KULIAH
PENELITIAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN
KELAS :TP. B
DOSEN PENGAMPU
Dr. INDRATI KUSUMANINGRUM,M.Pd



Oleh
HAMIDAH
NIM:1109845
FAKULTAS TEKNOLOGI PENDIDIKAN
UNIVERSITAS RIAU KERJASAMA UNP
TAHUN 2012
PENGARUH  PENERAPAN
MODEL PEMBEMBELAJARAN TEMATIK  DAN MOTIVASI BELAJAR TERHADAP HASIL BELAJAR IPA SISWA KELAS  I SD NEGERI 028 KERITANG











Oleh
HAMIDAH
NIM : 1109845





PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PENDIDIKAN
PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS RIAU (UR)
KERJASAMA  UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2012
KATA PENGANTAR
     Puji dan  suyukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat taufik dan hidayahNya sehimgga penulis dapat menyelesaikan proposal tesis yang berjudul “ Pengaruh Pendekatan Penerapan Model Pembelajaran Tematik dan Motivasi Belajar Terhadap Hasil Belajar siswa SD Negeri 028 Keritang Kabupaten Indragiri Hilir. Sholawat dan salam penulis sampaikan kepada Nabi Muhammad SAW,  mudah-mudahan kita dapat safaat dari beliau.
     Penulis menyadari dan merasakan sepenuhnya bahwa dalam menyelesaikan proposal tesis ini tidak terlepas dari bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak. Untuk itu penulis menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setulus-tulusnya kepada bapak dosen yang selalu memberikan motivasi kepada penulis mulai dari awal hingga sampai ahir.
     Kepada rekan-rekan mahasiswa Program Studi Teknologi Pendidikan Pascasarjana UNP atas segala bantuan dan kerjasama sejak mengikuti studi sampai menyelesaikan proposal ini.
     Semoga amal baik bapak ibu dan rekan-rekan berikan kepada penulis demi kelancaran proposal ini, mendapat balasan karunia rahmat dari Allah SWT. Terakhir Semoga proposal tesis ini dapatmemberikan manfaat dan kontribusi dan bagi pengembang dalam proses pembeljaran demi tercapainya tujuan pendidiikan.

BAB I
PENDAHULUAN
  A.Latar bBelakang Masalah
     Pendidikan di sekolah dasar merupakan hasil perkembangan kualitas sumber daya manusia dimasa mendatang,dimana peserta didik mulai dilatih untuk mengenal diri dan lingkungannya.Pada jenjang pendidikan ini, proses pembelajaran beroreantasi pada pengembangan motivasi pesreta didik, sehingga mereka diharapkanakan berpandangan bahwa belajar merupakan suatu kebutuhan untuk mencapai kesuksesan dalam kehidupannya kelak (Soetarno Joyoatmojo. 2003).Dalam rangka mengembangkan motivasi belajar peserta didik, salah satu upaya yang harus dilakukan guru degan mengembangkan strategi pembelajaran yang memacu peserta didik untuk belajar secara aktif, inopatif, kreatif, efektif, dan menarik (Paikem).
     Dalam rangka mengembangkan Paikem, pendekatan pembelajaran dewasa inin dianjurkan para pakar pendidikan adalah dengan menerapkan pendekatan pembelajaran tematik, terutama pada kelas-kelas rendah, yaitu kelas 1, 2, dan kelas 3. Pendekatan pembelajaran tematik diyakini sebagai pendekatan beroreantasi pada praktek pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa. Pembelajaran tematik akan membantu menciptakan kesempatan yang luas bagi siswa untuk melihat dan membangun konsep-konsep yang saling berkaitan.Dengan demikian pembelajaran tematik memberikan kesempatan kepada siswa untuk memahami masalah yang komplek dengan cara pandang yang utuh.Dengan pembelajaran tematik ini diharapkan siswa memiliki kemampuan, mengidentipikasi, mengumpulkan, menilai, dan menggunakan impormasi yang ada di sekitarnya secara bermakna.
      Dewasa ini, penerapan pembelajaran tematik telah dilakukan secara luas di seluruh Indonesia, akan tetapi berdasarkan pengalaman pribadi dan rekan-rekan ,diperoleh gambaran bahwa penerapan pendekatan pembelajaran ini belum seperti yang seharusnya, misalnya dalam pembelajaran IPA. Gambaran ini diperoleh berdasarkan kenyataan bahwa indeks ketuntasan belajar siswa maupun ketuntasan materi pelajaran yang dicapai selama ini masih rendah.Dalam kurun waktu tahun pelajaran 2011, pencapaian hasil pembelajara IPA di kelas I SD hanya berkisar pada angka ketuntasan 50% dari yang diharapkan sebesar 70%.
     Rendahnya ketuntasan materi pelajaran ,disebabkan karena pendekatan pembelajaran tematik belum diterapkan secara maksimal seperti yang diharapkan. Hal tersebut karena kurangnya reperensi tentang panduan praktis pengembangan pendekatan pembelajaran tematik, terutama pengembangan perangkat pembelajaran maupun teknis pelaksanaan  pembelajaran tematik itu sendiri, sehingga guru Sekolah Dasar termasuk penulis sendiri merasa kesulitan untuk menerapkan pendekatan pembelajaran tematik.
 B. Identipikasi Masalah
     Bertitik tolak dari latar belakang yang telah yang telah diuraikan di atas, maka dapat diidentipikasi masalah sebagai berikut:
 1.Penerapan pembelajaran tematik yang dilaksanakan selama ini masih belum memberikan hasil yang memuaskan.
2.Pembelajaran tematik yang dilaksanakan masih cendrung terpaku pada stategi  (metode) pembelajaran kompensional , di mana kegiatan pembelajaran masih didominasi oleh guru (Teacher Centered).
 3.Masih minimnya reperensi tentang panduan praktis pengembangan pembelajaran tematik, baik untuk pengembangan perangkat pembelajaran , maupun teknis pelaksanaan pembelajaran dikelas.
C. Pembatasan Masalah 
     Berdasarkan identipikasi masalah, permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini dibatasi pada aspek pengembangan program pembelajaran dengan pendekatan tematik dengan penilaian efektipitas pada pembelajaran IPA di kelas I SD Negeri 028 Keritang.
     Sehubungan dengan hal tersebut penulis merasa tertarik untuk mengembangkan  penerapan pendekatan tematik yang efektif dan efesien melalui penelitian yang seksama guna meningkatkan kuaalitas penbelajaran yang dilaksanakan. Judul yang diajukan dalam penelitian ini adalah  “ Pengaruh Penerapan Pendekatan Model Pembelajaran Tematik  dan Motivasi Terhadap Hasil Belajar IPA Kelas I SD Negeri 028 Keritang.
D. Perumusan Masalah   
     Permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini dirumusksn sebagai berikut: “Bagaimana pola pengembangan  perangkat pembelajaran, media, dan strategi pelaksanaan pendekatan tematik yang efektif untuk pembelajaran IPA di kelas I SD Negeri 028 Keritang?”.
E. Tujuan Penelitian
     Tujuan penelitian ini memperoleh gambaran yang jelas tentang strategi penerapan pendekatan pembelajaran tematik, yang meliputi pengembangan perangkat pembelajaran dan strategi penyajiannya dalam mata pelajaran IPA di SD Negeri 028 Keritang.
F. Manfaat Penelitian
             Hasil dari penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi:
1.    Siswa, dapat meningkatkan hasil belajar .
2.Bagi peneliti sendiri, untuk meningkatkan kemampuan dalan menerapkan pendekatan pembelajaran tematik yang efektif dan efesien, khususnya dalam mata pelajaran IPA di kelas SD Negeri 028 Keritang.
 3..Bagi rekan-rekan sejawat, diharapkan dapat menjadi rujukan tentang teknis pengembangan penerapan pembelajaran tematik.
 4.Bagi kepala sekolah , sebagai bahan masukan dalam meningkatkan mutu pembelajaran di SD Negeri 028 Keritang.






BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A.     Pendekatan Pembelajaran Tematik
     Pembelajaran tematik merupakan implementasi dari Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Dasar pertimbangan pelaksanaan pembelajaran tematik ini merujuk pada tiga landasan, yaitu landasan filosopis, psikologis dan yuridis.
     Menurut Rusman  (2011:255)landasan filosofisnya yaitu, kemunculan pembelajaran tematik sangat dipengaruhi oleh tiga aliran filsafat berikut:  (1)progresivime, (2) konstruktivisme, dan (3) humanisme. Aliran progresivisme memandang proses pembelajaran perlu ditekankan pada kreativitas  pemberian sejumlah kegiatan, suasana yang alamiah (natural),  dan memperhatikan pengalaman siswa. Aliran konstruktivisme melihat pengalaman langsung siswa (direct eksperiences) sebagai kunci dalam pembelajaran. Dalam hal ini isi atau materi pembelajaran perlu dihubungkan dengan pengalaman siswa secara langsung. Menurut aliran ini, pengetahuan adalah hasil konstruksi atau bentukan manusia. Manusia mrenkonstruksi pengetahuan melalui interaksi dengan objek, fenomena, pengalaman dan lingkungannya. Pengetahuan tidak dapat ditransper begitu saja dari seorang guru kapada siswa, tetapi harus diinterprestasikan sendiri oleh masing-masing siswa. Aliran humanism melihat siswa dari segi keunikan atau kekhasannya, potensinya, dan motivasi yang dimilikinya. Rusman (2011:256) menyatakan implikasi dari hal tersebut dalam kegiatan pembelajaran yaitu: (a) pembelajaran selain bersipat klasikal, juga bersipat individual, (b) pengakuan adanya siswa yang lambat (slow learner)  dan siswa yang cepat, (c) penyikapan hal-hal yang unik dari  diri siswa baik yang menyangkut faktor personal/individu maupun yang menyangkut faktor lingkungan sosial.
     Landasan psikologis terutama berkaitan dengan psikologis  perkembangan perkebangan peserta didik dan psikologis belajar.psikologis perkembangan diperlukan terutama dalam menentukan isi /materi pembelajaran tematik yang diberikan kepada siswa agar tingkat keluasan dan kedalamannya sesuai dengan tahap perkembangan peserta didik. Psikologis belajar memberikan konstribusi dalam hal bagaimana isi/materi pembelajaran  tematik tersebut disampaikan kepada siswa dan bagaimana pula siswa harus mempelajarinya.Melalui pembelajaran tematik diharapkan adanya perubahan prilaku siswa menuju kedewasaan, baik fisik, mental/ intelektual, moral maupun sosial.
     Landasan yuridis berkaitan dengan berbagai kebijakan maupun perturan yang  mendukung pelaksanaan pembelajaran tematik di sekolah dasar. Dalam UU No. 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak dinyatakan bahwa setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakatnya (pasal 9). Dalam UU No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dinyatakan bahwa setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat,  dan kemampuannya.
     Yang dimaksud dengan tema menurut Depdiknas  (2007:226) adalah pokok pikiran atau gagasan pokok yang menjadi pokok pembicaraan .Selanjutnya menurut Kunandar  (2007:311), “Tema merupakan alat atau wadah untuk mengedepankan berbagai konsep kepada anak didik secara utuh.”  Dalam pembelajaran, tema diberikan dengan maksud menyatukan isi kurikulum dalam satu kesatuan yang utuh, pembelajaran yang melibatkan beberapa mata pelajaran untuk memberikan pengalaman yang bermakna kepada siswa. Keterpaduan dalam pembelajaran ini dapat dilihat dari aspek proses atau waktu, aspek kurikulum dam aspek belajar mengajar. Jadi pembelajaran temetik adalah pembelajaran terpadu yang mnggunakan tema sebagai pemersatu materi yang terdapat di dalam beberapa mata palajaran yang diberikan dalam satu kali tatap muka sehingga dapat memberikan pengalaman yang bermakna kepada siswa. Peserta didik akan memahami konsep-konsep yang mereka pelajari melalui pengalaman langsung dan menghubungkannya dengan konsep lain yang tlah dipahaminya.
     Pendekatan tematik berangkat dari tiori pembelajaran yang menolak proses latihan/hapalan (driil ) sebagai dasar pembentukan pengetahuan dan struktur intelektual anak. Tiori pembelajaran ini dimotori oleh tokoh psikologi Gelstalt termasuk Piaget yang menekankan bahwa pembelajaran itu haruslah bermakna dan berorientasi pada kebutuhan dan perkembangan anak. Pendekatan pembelajaran tematik lebih menekankan kepada konsep belajar sambil melakukan sesuatu(learning by doing).
     Dalam pelaksanaannya, pendekatan pembelajaran tematik ini bertolak dari suatu tema yang dipilih dan dikembangkan oleh guru dengan memperhatikan keterkaitannya denga mata pelajaran yang lain. Tema dalam pembelajaran tematik menjadi sentral yang harus dikembangkan. Penggunaan tema dimaksudkam sebagai wadah/alat agar anak mengenal berbagai konsep lebih bermakna, mudah dan jelas.Dalam konteks pembelajaran di SD tersedia berbagai jenis tema yang dapat dipilih, seperti diri sendiri, keluarga, lingkungan, transportasi, kesehatan, kebersihan dan keamanan,hewan dan tumbuh-tumbuhan, pekerjaan gejala alam dan peristiwa, rekreasi, negara dan alat komunikasi.
           Pemilihan tema hendaknya memperhatikan prinsip-prinsip berikut:
 a.Kedekatan, artinya tema hendaknya dipilih mulai dari yang terdekat kepada tema yang semakin jauh dari kehidupan anak.
 b.Kesederhanaan, tema hendaknya dipilih mulai dari yang mudah sampai kepada yang lebih rumit bagi anak.
 c.Kemenarikan, teme yang dipilih menarik minat anak.
 d.Sesuai dengan tingkat perkembangan anak.
Pendekatan pembelajaran tematik memiliki ciri/karekteristik dijelaskan oleh BNSP (2006:7), sebagai berikut:
a.Berpusat kepada siswa
Hal ini sesuai dengan pendekatan pembelajaran modern yang lebih banyak menempatkan siswa sebagai sujek belajar, aedangkan guru lebih banyak berperan sebagai pasilitator, dengan memberi kemudahan-kemudahan kepada siswa untuk melakukan aktivitas belajar.
 a.Memberikan pengalaman langsung
Dengan pengalaman langsung siswa dihadapkan dengan pada sesuatu yang nyata(konkret) dasar untuk memahami hal yang abstrak.
 b.Menyajikan konsep dari berbagai mata pelajaran
Hal ini diperlukan untuk membantu siswa dalam memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.
 c.Hasil pembelajaran sesuai dengan minat dan kebutuhan anak
Siswa diberi kesempatan untuk mengoftimalkan potensi yang dimilikinya.
 d.Menggunakan prinsip belajar sambil bermain dan menyenangkan.
Rambu-rambu dalam penerapan pembelajaran tematik sbagai berikut:
a.      Tidak semua mata pelajaran harus dipadukan
b.      Kemungkinan terjadi penggabungan kompetensi lintas semarter
c.       Kompetensi dasar yang tidak dirintegrasikan dibelajarkan dengan cara tersendiri.
d.      Kegiatan pembelajaran ditekankan pada kemampuan membaca, menulis, dan berhitung serta penanaman nilai-nilai moral
e.      Teme-tema yang dipilih disesuaikan dengan karekteristik siswa, lingkungan dan daerah setempat. BSNP (2006:8).
     Persiapan pelaksanaan pembelajaran tematik terdiri dari beberapa tahap, yaitu: (a) Pemetaan kompetensi dasar, (b) Penjabaran kompetensi dasar ke dalam indikator (c) Penentuan tema, (d) Identifikasi dan analisis standar kompetensi dilakukan untuk memperoleh gambaran secara menyeluruh dan utuh,semua standar kompetensi dan kompetensi dasar,dan indikator dari berbagai mata pelajaran yang dipadukan dalam tema yang dipilih.
Kegiatan yang dilakukan adalah:
Melakukan kegiatan penjabaran standar kompetensi, dan kompetensi dasar,dari setiap pembelajaran ke dalam iundikator, dengan memperhatikan hal-hal berikut:
1.      Indikator dikembangkan sesuai dengan karekteritik peserta didik.
2.      Indikator dikembangkan sesuai denga mata pelajaran
3.      Dirumuskan dalam kata kerja operasional yang terukur dan dapat diamati.
Penentuan tema dapat dilakukan dengan dua cara yaitu:
1.Mempelajari standar kompetensi dan kompetensi dasar yang terdapat  pada masing-masing , dilanjutkan dengan menentukan tema yang sesuai.
2.Menetapkan terlebih dahulu tema-tema pengikat keterpaduan, dilanjutkan  dengan mengidentifikasi kompetensi dasar dari berbagai mata pelajaran yang cocok dengan tema yang telah ada. Untuk menetukan tema tersebut guru dapat bekerjasama dengan siswa.
     Identifikasi dan analisis standar kompetensi, kompetensi dasar dan indikator
 1)Menetapkan Jaringan Tema
Pembuatan jaringan tema dilakukan dengan cara menghubungkan      kompetensi dasardan indikator dengan tema pemersatu. Dengan jaringan tema tersebut akan terlihat kaitan antara tema, kompetensi dasar dan indikator dari setiap mata pelajaran . Jaringan tema ini dapat dikembangkan sesuai alokasi waktu yang tersedia untuk setiap tema.
 2) Menyusun Silabus Pembelajaran Tematik
Hasil seluruh proses-proses yang dilakukan dari tahap-tahap   sebelumnyadijadikan dasar dalam penyusunan silabus. Komponen silabus terdiri dari standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator, pengalaman belajar, alat/sumber, dan penilaian.
 3) Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
Untuk keperluan pelaksanaan pembelajaran, guru perlu menyusun Rencana  Pelaksanaan  Pembelajaran (RPP). RPP  ini merupakan realisasi yang telah ditetapkan dalam silabus pembelajaran. Komponen RPP temetik meliputi :
a)Identitas mata pelajaran yang mana mata pelajaran yang akan  dipadukan,kelas,semester,dan waktu/banyaknya jam pelajaran yang dialokasikan.
a)    Kompetensi dasar dan indikator yang akan dilaksanakan.
b)    Materi pokok beserta uraiannya yang perlu dipelajari siswa dalam rangka mencapai kompetensi dasar dan indikator.
c)    Strategi pembelajaran (kegiatan pembelajaran secara konkrit yang harus dilakukan siswa dalam berinteraksi denagn materi pembelajaran dan sumber belajar untuk menguasi kompetensi dasar dan indikator. Kegiatan pembelajaran terdiri atas pembukaan, inti dan penutup. Alat dan media yang digunakan untuk mencapai kompotensi dasar serta sumber bahan yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran temmatik sesuai dengan kompetensi dasar yang harus dikuasai. Selanjutnya ditentukan penilaian dan tindak lanjut( prosedur dan instrumen yang akan digunakan)  untuk menilai pencapaian belajar peserta didik serta tindak lanjut hasil penilaian.
B.      Prestasi Hasil Belajar
     Menurut  W.J.S Purwodarminto (1987:767)  prestasi belajar adalah hasil belajar yang dcapai sebaik-baiknya menurut kemampuan anak pada waktu tertentu terhadap hal-hal yang dikrjakan atau yang dilakukan. Winkel (1996:162), mengatakan bahwa prestasi belajar adalah suatu bukti keberhasilan belajar atau kemampuan seseoramg siswa dalam melakukan kegiatan belajarnya sesuai dengan bobot yang dicapainya.
     Prestasi belajar merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan belajar, karena kegiatan belajar merupakan proses, sedangkan prestasi merupakan hasil dari proses belajar. Memahami pengertian prestasi bvelajar secara garis besar harus bertitik tolak pada belajar itu sendiri. Untuk itu para ahli mengemukakan pendapatnya yang berbeda-beda sesuai pandangan yang mereka anut. Purwanto (1986:2) memberi pengertian prestasi belajar hasil yang dicapai oleh seseorang dalam usaha belajar sebagai mana yang dinyatakan dalam raport. Sedangkan menurut S. Nasution (1996:17) prestasi belajar adalah kesempurnaan yang dicapai seseorang dalam berfikir, merasa dan berbuat. Prestasi belajar dikatakan sempurna apabila memenuhi tiga aspek yakni aspek koknitif, afektif, dan psikomotor, sebaliknya dikatakan prestasi kurang memuaskan jika seseoarang belum mampu memenuhi target dalam ketiga kriteria tersebut.
     Berdasarkan pengertian , maka dapat dijelaskan bahwa prestasi belajar merupakan tingkat kemampuan yang dimiliki siswa dalam menerima, menolak  dan menilai impormasi-impormasi yang diperoleh dalam proses belajar mengajar .
     Berdasarkan pendapat di atas penulis berkesimpulan bahwa Prestasi belajar adalah hasil belajar yang telah dicapai menurut kemampuan yang dimiliki dan ditandai dengan perkembangan serta perubahan tingkah laku pada diri seseorang yang diprrlukan dari belajar dengan waktu tertentu. Prestasi belajar ini dapat dinyatakan dalam bentuk nilai dari hasil test atau ujian.
C.      Tinjauan Tentang Pelajaran IPA di SD
Carin (1985)mendepenisiklan IPA ipa sebagai pengetahuan alam melalui pengumpulan data yang dilakukan dengan observasi dan eksperimen . Sementara itu Hungerfurd dan Volk (1990)mendepenisikan IPA sebagai (1) proses penguji impormasi yang diperoleh melalui metode empiris,(2) impormasi yang diberikan oleh suatu proses yang menggunakan pelatihan yang dirancang secara logis, dan (3) kombinasi antara proses berfikir kritis yang menghasilkan produk impormasi yang sahih.
     Berdasarkan pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa IPA merupakan suatu kumpulan pengetahuan yang tersusun secara sistimatis dalam bentuk kumpulan konsep, prinsip, teori dan hukum. IPA dapat dipandang sebagai produk atau ilmu pengetahuan yang diperoleh metode ilmiah , dan dapat juga dipandang sebagai proses yaitu sebagai pola berfiratau metode berfikirnya. Sedang sikap yang dibutuhkan dalam metode ilmiah , berupa sikap ilmiah yang antara lain berupa hasrat ingin tahu, kerendahan hati, jujur, objektif, cermat, kritis, tekun, terbuka, dan penuh tanggung jawab.
     Donosepoetro dalam Trianto (2011:137) mengatakan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dapat dipandang sebagai produk dan sebagai proses. Secara defenisi, IPA sebagai produk adalah hasil temuan-temuan para saintis , berupa fakta, konsep, prinsip, dan tiori-tiori. Sedangkan IPA sebagai proses strategi atau cara yang dilakukan para ahli saintis dalam menemukan berbagai hal tersebut sebagai implikasi adanya temuan-temuan tentang kejadian-kejadian atau peristiwa-peristiwa alam. IPA sebagai produk tidak dapat dipisahka dari hakikatnya IPA sebagai pros
Siswa SD yang pada umumnya berusia 6-12 tahun, secara perkembangan komnitiftermasuk dalam tahapan operasional konkrit/ nyata. Siswa mulai mampu berfikir logis yang elementer, misalnya mengelompokan, merangkaikan sederetan objek, dan menghubungkan satu dengan yang lainnya. Konsep reversibilitas mulai berkembang.Pada mulanya bilangan , kemudian panjang luas, dan volume. Siswa masih berfikir tahap demi tahap tetapi belum dihubungkan satu dengan yang lain.
     Uraian diatas menunjukan bahwa dalam pembelajaran IPA di SD yang perlu diajarkan adalah produk dan proses IPA karena keduanya tidaqk dapat dipisahkan. Guru yang berperan sebagai pasilitator siswa dalam belajar produk dan proses IPA harus dapat mengemas pembelajaran yang sesuai dengan karekteristik siswa. Ada beberapa pembelajaran prinsip IPA untuk SD harus diperhatikan oleh guru. Menurut Donosepoetro dalam Trianto (2011:137) mengenai prisip pembelajaran IPA antara lain :
      1.Pemahaman kita tentang  dunia di sekitar kita dimulai melalui pengalaman baik secara inderawi maupun non inderawi.
     2.Pengetahuan yang diperoleh tidak pernah terlihat langsung , karena itu perlu diungkap selama proses pembelajaran, pengetahuan siswa yang diperoleh bdari pengalaman itu perlu doungkap setiap awal pembelajaran.
     3.Pengetahuan pengalaman mereka ini pada umumnya kurang konsisten dengan pengetahuan para ilmuwan , pengetahuan yang dimiliki pengetahuan yang miskonsepsi. Anda perlu merancang kegiatan yang dapat membetulkan miskonsepsi ini selama pembelajaran.
     4. Setiap pengetahuan mengandung fakta, data, konsep, lambang dan relasi dan konsep yang lain. Tugas sebagai guru IPA mengajak siswa untuk mengelompokan pengetahuan yang sedang dipelajari itu ke dalam fakta, data, konsep, simbol, dan hubungan dengan konsep yang lain.
     5.IPA terdiri dari produk dan proses. Guru perlu menyampaikan konsep ini walaupun hingga kini masih banyak guru yang lebih senang menekankan pada produk IPA saja. Perlu diingat bahwa perkembangan IPA sangat pesat.
D. Kerangka Konseptual
 1.Perbedaan Pengaruh Pendekata Pembelajaran Tematik dan Pembelajaran  Kompensional
     Perbedaan pembelajaran tematik dengan pendekatan pembelajaran kompensional dalam pembelajaran menjadi dasar kerangka berpikir dalam mengembangkan penelitiuan ini.Pembelajaran yang menggunaka pendekatan kompensional merupakan pembelajaran yang berpusat kepada guru sehingga merupakan satu-satunya sumber belajar dan penentu jalannya proses pembeljaran, dalam hal ini model pembelajaran kpmpensional tidak dapat memberikan  akses impormasi belajar yang luas sehingga siswa tidak dapat berkembang secara mandiri., untuk mengaktualisasikan pengetahuan atau pengalaman yang telah dimilikinya.Kemampuan untuk mengeluarkan pendapatpun menjadi sangat minim karena siswa terbiasa dengan aturan-aturan pembelajaran yang sipatnya hanya mendengar dan mencatat apa yang diperlukannya.Hal ini membuat kemampuan berkomunikasi siswa tidak dapat berkembang  dengan oftimal.
     Pendekatan model pembelajaran tematik yaitu pembelajaran yang harus mengaitkan beberapa mata pelajaran menjadi  satu dalam proses  penyampaian pembelajaran , sehingga siswa menerima materi pembelajaran tidak hanya terpokus pada satu pengertian saja, siswa dapat memahami beberapa materi lain yang dalam pembelajarannya ada keterkaitan satu sama lainnya Melalui pendekatan ini memungkinkan terjadinya proses pembelajaran yang di dalamnya siswa dapat memahami serta kemampuan akademiknya dalam berbagai pariasi kontek.
     Secara garis besar perbedaan pendekatan model pembelajaran tematik dengan model pendekatan pembelajaran kompensional adalah seperti yang tertera pada tabel 3.





     Tabel 3. Perbedaan Pendekatan Tematik dan Pendekatan Kompensional
No
Pendekatan Tematik
Pendekatan Kompensional
1

2

3

4



5






6


Siswa secara aktif terlibat dalam proses pembelajaran
Siswa belajar dari beberapa keterkaitan dari mata pelajaran
Prilaku dibangu atas kesadaran diri
Keterampilan dikembangkan atas dasar pemahaman
Hadiah untuk prilaku baik adalah kepuasan diri
Pengetahuan yang dimiliki manusia dikembangkan oleh manusia itu sendiri. Manusia menciptakan atau membangun pengetahuan dengan cara memberi arti dan memahami pengalaman
Pembelajaran  terhadap pengalaman siswa sangat diutamakan

Siswa adalah penerima impormasi secara pasif
Siswa belajar hanya dengan satu mata pelajaran
Prilaku dibangun atas dasar kebiasaan
Keterampilan dikembangkan atas dasar latihan
Hadiah untuk prilaku baik adalah pujian atau nilai raport
Pengetahuan adalah penangkapan serangkaian fakta, konsep, atau hukum yang ada di luar dari manusia



Pembelajaran tidak memperhatikan pengalaman siswa



 Berdasarkjan uraian diatas tentang perbedaan pembelajaran tematik  dendgan pendekatan pembelajaran kompensional dapat dijadikan kerangka konseptual bahwa pendekatan bahwa pendekatan tematik memiliki kontribusi terhadap hasil belajar siswa.
2.Perbedaan Hasil Belajar Antara Siswa yang Memiliki Motivasi (tinggi / rendah )  dalam Pendekatan Pembelajaran Tematik dan Pendekatan Komvensional
     Motivasi yang dimiliki siswa sangat mempengaruhi hasil belajarnya.  Pendekatan pembelajaran tematik terhadap siswa yang memiliki motivasi yang tinggi  dapat dengan mudah menguasai matei pelajaran  yang sedang dipelajari. Siswa akan mudah menemukan makna dari proses pembelajarannya Sehingga pada ahirnya dapat meningkatkan hasil belajar.
     Penggunaan pendekatan pembelajaran tematik meningkatkan dapat meningkatkan pemahaman siswa berpengetahuan awal rendah. Tahapan-tahapan pembelajaran yang tidak menyulitkan siswa membuat siswa membuat siswa dengan motivasi siswa rendah bersemangat dalam belajar. Hal ini dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
     Pendekatan kompensional bagi siswa yang memiliki motivsi tinggi mempunyai pengaruh yang lebih baik Tetapi bagi siswa Yang motivasi rendah, penggunaan pendekatan kompensional dapatmenyebabkan siswa pasif di dalam kelas dan hanya mendengarkan materi yang disampaikan oleh guru tampa ada usaha untuk belajar sendiri, sehingga prosees pembelajaran tidak memiliki kebermaknaan .
     Ditinjau dari  perbedaan yang dikemukakan di atas dapat diduga penerapan pendekatan pembelajaran tematik dapat meningkatkan hasil belajar siswa dan meningkatkan kemaknaan proses pembelajaran.
     Pendekatan pembelajaran tematik jika siswa memiliki motivasi tinggi, dan pendekatan pembelajaran kompensional dapat berjalan dengan baik, jika  siswa memahami materi pelajaran yang diajarkan.














  
  E.Penelitian yang Relevan

Saleh Haji (2007)  meneliti tentang Dampak Penerapan Tematik Dalam Pembelajaran Matematika. Hasil dari penelitiannya menyimpulkan bahwa hasil belajar siswa yang diajar dengan menggunakan pendekatan tematik lebih baik dari pada yang diajarkan deenga menggunakan pembelajaran kompensional.
1.    Irmansyah (2010) meneliti tentang Penggunaan pendekatan Pembelajaran Tematik Dengan Strategi Inquiri Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Alam, mengemukakan bahwa penggunaan pendekatan model pembelajaran tematik dengan meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran sains di sekolah dasar.
  F.Hipotesis Tindakan
Berdasarkan  landasan tiori dan kerangka pemikiran yang telah dikemukakan  di atas maka dapat diurmuskan hipotesis penelitian sebagai berikut :
 1.Hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam kelompok siswa yang diajarkan  dengan model pembelajaran tematik lebih tinggi dibanding dengan hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam siswa yang diajarkan dengan model pembelajaran kompensional.
2.Hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam kelompok siswa yang dengan pengetahuan awal tinggi yang diajar dengan model pembelajaran tematik lebih tinggi dibanding dengan hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam siswa dengan pengetahuan awal tinggi yang diajarkan dengan model pembelajaran kompensional.
3.Hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam kelompok siswa dengan pengetahuan awal rendah yang diajarkan dengan model pembelajaran tematik lebih tinggi dibanding dengan hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam siswa dengan pengetahuan awal rendah yang diajarkan dengan model pembelajaran kompensional.
4.Terdapat interaksi antara model pembelajaran tematik dan model pembelajaran kompensional.








BAB III
METDOLOGI PENELITIAN
A.Jenis Penelitian
      Penelitian ini menggunakan eksperimen semu (quasi experiment).Metode eksperimen yang mendekati percobaan  sesungguhnya. Dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh impormasi yang dapat diperolehdari eksperimenberdasarkan perlakuan terhadap suatu unit percobaan dalam batas desain yang berbeda dari dua kelompok, yakni kedua-duanya diberi perlakuan, satu kelompok diberi perlakuan sebagai kelompok eksperimen,dan satu kelompok diberi perlakuan sebagai kelompok kontrol.Kelompok eksperimen akan diperoleh impormasi berdasarkan perlakuan (treatment) terhadap suatu percobaan dalam batas desain yang ditetapkan pada kelas eksperimen sehingga diperoleh data yang menggambarkan apa yang diharapkan. Karena penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besarnya pengaruh pembelajaran dengan strategi pembelajaran tematik dan motivasi terhadap hasil belajar IPA kelas 1SD Negeri 028 Keritang.
A.Populasi dan Sampel
 1.Populasi
      Populasi dari penelitian ini adalah siswa kelas 1 paralel yang berada di lingkungan Kecamatan Keritang yang berjumlah 52 orang. Populasi dapat dilihat pada tabel I  berikut :
Tabel I Jumlah Populasi Ssiswa Kelas I Kecatan keritang.
Sumber :Kantor UPTD Kecamatan Keritang
No
Kelas
Jumlah Siswa
1
1 A
25
2
1 B
27

Total
52

1.      Sampel
Sampel penelitian ini terdiri dari terdiri dari dua kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Pengambilan sampel dilakukuan degan memperbaiki karekteristik hasil belajar dan  kebiasan  siswa dalam pembelajaran dengan lepel yang sama dengan melakukan undian. Sekolah yang dipilih sebagai sampel untuk penelitian adalah SD Negeri 028 Keritang, yang kelas satunya terdiri dari dua kelas, yaitu kelas 1A terdiri dari ( 27 siswa ) sebagai kelompok eksperimen  dan kelas 1B terdiri dari ( 25 orang ) sebagai kelompok kontrol.Untuk mempermudah untuk pengambilan data dari kedua kelompok yaitu kelas  eksprimen dan kelas kontrol, motivasi belajar siswa dibedakan menjadi dua kelompok siswa dengan motivasi belajar tinggi dan kelompok siswa dengan kelompok belajar rendah D.  C. Variabel Penelitian  :
1. Variabel bebas yaitu pendekatan pembelajaran . Yaiyu ada dua kategori  , yaitu pendekatan pembelajaran berbasis tematik dan pendekatan pembelajaran kompensional.
 2. Variabel kontrol adalah motivasi siswa yang terdiri dari motivasi siswa tinggi dan motivasi siswa rendah . Motivasi siswa dijadikan variabel kontrol befungsi untuk mengelompokan siswa yakni, 50 % untuk siswa untuk kelompok siswa denga motivasi siswa tinggi dan 50 % untuk kelompok siswa motivasi siswa rendah.Pengelompokan siswa berguna untuk melihat keefektipan pendekata yang dieksperimenkan. Pendekatan pembelajaran yang efektif adalah pendekatan yang dapat meningkatakan hasil belajar siswa, baik siswa kelompok tatas maupun siswa kelompok rendah.
 3. Variabel terikat adalah hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam . Hasil belajar ini diperoleh setelah mengikuti serangkaian tes hasil belajar, yakni ntes objektif terhadap materi pembelajaran yang dieksperimenkan .
 D. Desain Penelitian
 Pelaksanaan penelitian ini meliputi penyajian pembelajaran dengan menggunakan metode inquiri dan metode kompensional.Desain eksperimen yang digunakan dalam penelitian ini berbentuk desain  Treatment By Block  sebagai berikut :

Tabel II
kELAS
Motivasi Tinggi (B I)
Motivasi Rendah B 2)
Pendeka(A I)
AI BI
AI B2
Kompensional(A2)
A2 BI
A2 B2

Keterangan :
AI BI          = Hasil belajar melalui pendekatan pembelajaran berbasis tematik  untuk siswa memiliki motivasi tinggi.
AI B2         = Hasil belajar melalui pendekatan pembelajaran berbasis tematik  untuk kelompok siswa memiliki motivasi rendah.
A2 BI          = Hasil belJr melalui pendekatan pembelajaran berbasi kompensional untuk kelompok siswa memiliki motivasi tinggi.
A2 B2         = Hasil belajar melalui pendekatan pembelajaran berbasis kompensionaluntuk siswa memiliki motivasi rendah.
     Perlakuan diberikan sebanyak 8 kali pertemuan, kemudian diadakan tes hasil belajar untuk melihat kemampuan akhir siswa. Untuk lebih jelasnya desain perlakuan penelitian dapat dilihat pada desain di bawah ini :

















Tabel III. Desain Pembelajaran
No
Tahap
                                       Kegiatan


Tematik
Kompensional
1
Awal
Persiapan
Ø Tes pengetahuan awal
Ø Apersepsi
Ø Memotivasi siswa
Ø Menyampaikan tujuan  pembelajaran
Ø Mengorganisasikan siswa dalam kelompok belajar
Ø Penyajian informasi dan masalah yang harus dipecahkan siswa berkaitan dengan konteks kehidupan sehari-hari

Persiapan
Ø Tes pengetahuan awal
Ø Apersepsi
Ø Memotivasi siswa
Ø Menyampaikan tujuan pembelajaran
Ø Mengorganisasikan siswa dalam kelompok belajar
Ø Penyajian informasi sekitar materi ajar

2
Inti
KBM
Ø Mengajukan beberapa pertanyaan untuk membimbing dan mendapatkan penjelasan
Ø Perencanaan prestasi hasil penyelidikan setiap kelompok belajar
Ø Menanggapi prestasi kelompok lain sebagai evaluasi
KBM
Ø Siswa memperhatikan penjelasan guru
Ø sesuai dengan langkah-langkah dan petunjuk yang ada
Ø Perencanaan prestasi hasil penyelesaian LKS
Ø Memeriksa hasil kerja siswa dalam diskusi kelas

3
Akhir
Ø Melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan dan proses-proses yang dilakukan siswa dalam memecahkan masalah Tes hasil belajar
Ø Siswa dengan bimbingan guru membuat rangkuman / kesimpulan hasil belajar
Ø Tes hasil belajar

Prosedur peneliyian yang dilakukan melipui :
1.      Tahap persiapan
           Meliputi studi kepustakaan  pembuatan proposal, instrumen, penelitian dan penentuan kelas yang dijadikan tempat pelaksanaan penelitian dan ujui coba instrumen penelitian .
2.      Tahap pelaksanaan
     Tahap pelaksanaan diawali pelaksanaan tes awal siswa pada kelas eksperimen dan kelas kontrol, kemudian pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan tematik untuk kelas eksperimen dan pembelajaran kompensional untuk kelas kotrol. Pelaksanaan pembelajaran dilaksanakan oleh guru kelas 1 SD Negeri 028 Keritang . Guru tersebut melaksanakan pembelajran sesuai dengan silabus dan rencana pelaksnan pembelajran (RPP) yang telah disiapkan oleh peneliti. Silabus  pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dapat dilihat pada lampiran, RPP pada lampiran kerja siswa pada pelaksanaan penelitian diperkirakan mulai pertengahan pebruari Pebruari 2012. Penelitian ini dilakukan terhadap 25 orang siswa kelas 1 satu Sekolah  Dasar untuk kelas eksperimen dan 27 oerang siswa untuk kelas kontrol.
Guru yang ditetapkan untuk melakukan pembelajaran tematik diberikan latihan kusus mengenai cara penyajian dan keterampilan-keterampilan yang harus dimiliki guru. Setelah guru tersebut memahami benar penerapan pendekatan pembelajaran tematik, selanjutnya ia melakukan eksperimen sebanyak 8 kali pertemuan, Sedangkan di kelas kontrol pelaksanaan pembelajaran sesuai dengan kegiatan yang biasa guru lakukan. Pada pertemuan pertama penerapan pembelajaran berbasis tematik yang dieksperimenkan diawali langsung oleh peneliti untuk memastikan penguasaan guru. Hasil tatap muka guru dan siswa dievaluasi untuk membenahi segala kekurangan dan kelemahan penerapan unutuk selanjutnya dilakukan perbaikan . Langkah-langkah pembelajaran berbasis tematik yang dilaksanakan adalah sebagai berikut:
  a.Kegiatan Awal
 1.Guru melakukan persepsi dengan melakukan tes awal yang bertujuan untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan yang dimiliki siswa.
2. Setelah persepsi guru memotivasi siswa dengan pertanyaan yang berhubungan dengan materi dan dikaitkan dengan pengalaman sehari-hari. Setelah itu guru menyampaikan tujuan pembelajaran.
3. Kemudian guru mengajukan pertanyaan yang berhubungan dengan situasi yang ada dalam kehidupan sehari-hari.
 b. Kegiatan Inti
Dalam kegiatan inti terdapat langkah-langkah sebagai berikut :
 1.Siswa menerima penjelasan dari guru.
2.Melalui tanya jawab guru memberikan bimbingan terhadap siswa yang mengalami kesulitan
3. Dalam setiap penjelasan-penjelasan guru siswa mendapatkan pendekatan dari guru.
  c.Kegiatan Akhir
1. Siswa diajak guru secara bersama-sama untuk melakukan refleksi serta  mengevaluasi kegiatan eksperimen atau penyelidikan yang telah dilakukan dalm rangka memecahkan masalah.
2. Kemudian guru mengajak siswa untuk menyimpulkan kegiatan penyelidikan dan proses yang telah dilakukan dalam pemecahan masalah.

Langkah – langkah pembelajaran berbasis tematik yang sering dilaksanakan oleh guru sebagai berikut : 
 a.Kegiatan Awal
1.Guru melakukan apersepsi dengan melakukan tes awal (free test) yang bertujuan untuk memantau sejauh mana pengetahuan yanag dimiliki siswa.
 2.Setelah apersepsi guru memotivasi siswa dengan pertanyaan yang berhubungan dengan materi.
 3.Setelah itu guru menyampaikan tujuan pembelajaran.
 4.Guru menyampaikan informasi tentang materi yang akan diajarkan.

 b.Kegiatan inti
Dalam kegiatan inti terdapat langkah-langkah sebagai berikut :
 1.Siswa mengerjakan latihan  yang diberikan guru yang berisikan pertanyaan untuk menyelesaikannya.
 2.Siswa mendengarkan penjelasan guru mengenai materi bahan ajar yang disampaikan dalam proses pembelajaran.
 3.Guru memeriksa hasil kerja siswa

 c.Kegiatan Akhir
 1.Siswa diajak guru secara bersama-sama menyimpulkan, merefleksi dan merangkum hasil belajar.
1.      Kemudian guru melakukan tes hasil belajar.

 2.Tahap Akhir

Setelah dilaksanakan penelitian pembelajaran dengan 8 kali pertemuan dengan pendekatan pembelajaran berbasis tematik pada kelas eksperimen dan pendekatan pembelajaran konvensional untuk kelas kontrol, maka pada perrtemuan ke 9 diadakan posttest untuk menguji penguasaan materi pembelajaran.
 F. Teknik Pengumpulan Data
           Untuk mengukur pengetahuan siswa terhadap materi Ilmu Pengetahuan Alam yang diberikan, baik dengan menggunakan pendekatan konvensional maupun pendekatan pembelajaran berbasis tematik, karenanya dilakukan tes. Tes yang diberikan berupa tes hasil belajar dalam bentuk tes objektif pilihan ganda. Penskoran tes obyektif berpedoman pada penilaian hasil belajar di SD dari BSNP (2007:25) dengan rumus :
 x 100      
 Keterangan :
S             = Skor
SP           = Skor perolehan
SM           = Skor maksimal
                                
G. Instrumen Penelitian
 Pada penelitian ini digunakan instrumen berupa tes objektif berbentuk pilihan ganda untuk variabel hasil belajar. Instrumen tes hasil belajar disusun berdasarkan indikator yang sesuai dengan kompetensi dasar dari materi yang diajarkan. Sebelum tes diberikan pada siswa seb-       agai sampel penelitian maka dilakukan uji coba. Uji coba ini dilakukan             untuk mengetahui tingkat validitas dan realiabilitas tes. Validitas dari butir soal tes disellidiki dengan menggunakan product moment person.

H. Uji Coba Instrumen   
         Sebelum tes diberikan pada siswa sampel penelitian, dilakukan uji coba pada kelas IV SDN 028 Keritang, kelas yang terpilih sebagai kelas uji coba instrumen. Uji coba tersebut dilakukan untuk mengetahui tingkat validitas dan reliabilitas tes. Validitas tes diselidiki dengan meminta pendapat ahli terhadap butir soal yang dibuat. Dari 52 siswa diambil 50% dari sampel penelitian untuk menentukan kelompok siswa bagian yang memiliki motivasi tinggi atas 50% untuk siswa kelompok bawah yang memiliki motivasi rendah. Suharsimi (2008 : 212) menyatakan bahwa untuk kelompok kecil (kurang dari 100) seluruh kelompok testee dibagi dua sama besar, 50% kelompok atas dan 50% kelompok bawah.
 a.Validitas
  1).Validitas Butir Soal
         Dukungan butir soal terhadap skor total digunakan untuk mengetahui  validitas butir soal. Setiap butir soal diuji validitasnya, skor-skor yang ada pada butir soal yang dimaksud dikorelasikan dengan skor total. Sebuah soal akan memiliki validitas yang tinggi jika skor soal tersebut memiliki dukungan yang besar terhadap skor total. Dari dukungan setiap butir soal dinyatakan dalam bentuk korelasi, sehingga mendapatkan validitas butir soal dengan menggunakan rumus korelasi.
         Perhitungan dilakukan dengan menggunakan rumus korelasi product  moment person.
       (Arikunto, 2008 : 75)
                          Keterangan :
                            = Skor Item
                        X          = Skor total
                        Y          = Jumlah siswa
                        Interprestasi untuk besarnya koefisien korelasi adalah sebagai berikut :
                       



                       






















Batasan
Kategori
0,80 < ≤ 1,00
Sangat tinggi (sangat baik)
0,60 < 0,80
Tinggi (baik)
0,40 < 0,60
Cukup (sedang)
0,20 < 0,40
Rendah (kurang)
0,00 <   0,20
Sangat rendah (kurang)





Tabel VII. Kategori reliabilitas Butir Soal



Kemudian ununtuk mengetahui signifikasi korelasi dilakukan uji-t dengan   rumus  berikut :
                                      (Sudjana, 1992 : 380)
                          Keterangan :
                        t           = Daya pembeda dari uji-t
                        N          = Jumlah siswa
                          = Koefisien korelasi
                        2.Daya Pembeda
            Daya pembeda soal adalah kemampuan suatu soal untuk membedakan  antara siswa yang berkemampuan rendah. Angka yang menunjukkan besarnya daya pembeda disebut indeks diskriminasi (D). Rumus untuk menentukan indeks diskriminasi adalah :
                                           (Arikunto, 2008 : 213)
                          Keterangan :
                        J           = Jumlah peserta tes
                                 = Banyaknya peserta kelompok atas
                                = Banyaknya peserta kelompok bawah
                                = Banyaknya kelompok atas yang menjawab benar
                               = Banyaknya kelompok bawah yang menjawab benar
                                = Proporsi kelompok atas yang menjawab benar
                                = Proporsi kelompok bawah yang menjawab benar
                        Kategori daya pembeda adalah sebagai berikut :
                        Tabel V. Kategori Daya Pembeda





Batasan
Kategori
0,00 < D ≤ 0,20
Jelek
0,20 < D 0,40
Cukup
0,40 < D 0,70
Baik
0,70 < D 1,00
Baik sekali

                        3). Tingkat Kesukaran
            Tingkat kesukaran adalah bilangan yang menunjukkan sukar atas mudahnya suatu soal. Besarnya indeks kesukaran berkisar antara 0,00 sampai 1,00. Soal dengan indeks kesukaran 0,00 menunjukkan bahwa soal itu terlalu sukar, indeks 1,00 menunjukkan bahwa soal tersebut terlalu mudah. Indeks kesukaran diberi simbol P (proporsi) menurut Arikunto (2008 : 208) dihitung dengan rumus :
                         
                        Keterangan :
                        P          = Indeks kesukaran
                        B          = Banyaknya siswa yang menjawab soal itu dengan betul
                        JS         = Jumlah seluruh siswa peserta tes
                        Kalsifikasi untuk indeks kesukaran adalah sebagai berikut :
                        Tabel VI. Kategori Tingkat Kesukaran
Batasan
Kategori
0,00 < P ≤ 0,30
Soal sukar
0,30 < P 0,70
Soal sedang
0,70 < P 1,00
Soal mudah
           
                                   
                        b). Reliabilitas
Rehabilitas disebut keterandalan atau kemantapan suatu instrumen  yakni sejauh mana instrumen menghasilkan skor-skor hasil penelitian yang stabil dan konsisten, ( Panta buntu :37) suatu tes dapat memiliki tarap realibilitas yang tinggi jika tes tersebut dapat memberikan hasil yang ejek atau tetap tidak selalu sama, tetapi selalu mengikuti perubahan secara ejek. Realibilitas ini dihitung menggunakan rumus Kuder  Richardson  (KR  20) adapun rumusnya adalah :
                                      (Arikunto, 2008 : 100)
                        Keterangan :
                                =realibilitas tes secara keseluruhan
                        P          =Proporsi subjek yang menjawab dengan benar
                        q          =Proporsi subjek yang menjawab dengan salah (q =1 –p )
                             =Jumlah hasil perkalian antara p dan q
                        N          =Banyaknya item
                        S          =Standar deviasi dari tes  ( standar deviasi adalah akar dari varian )
            Interprestasi derajat reliabilitassuatu tes menurut Arikunto (2008:75) adalah  sebagai berikut:

Tabel VII. Kategori Reliabilitas Butir Soal
    a
Batasan
Kategori
0,80 <  ≤ 100
Sangat Tinggi (sangat baik
0,60 <   0,80
Tinggi (baik)
0,40 <   0,60
Cukup (sedang)
0,20 <   0,40
Rendah (kurang)
 0,20
Sangat rendah (sangat rendah)

                        Tehnik Analisis Data
 1.Tehnik analisis uji kesamaan pada hipotesis 1,2 dan antara siswa pada kelas  eksperimen dengan siswa pada kelas kontrol. Dalam penelitian ini hipotesis dianalisis dengan menggunakan statistik uji perbedaan dengan menggunakan uji- t rumus uji t yang digunakan adalah :
                                        (Sudjana, 1989 : 239)






 
 

Keterangan :
                                            =rata-rata nilai kelompok eksperimen
                               =rata-rata nilai kelompok kontrol                 
                                =responden kelas eksperimen
                                =responden kelas kontrol
 S   =simpangan baku
  2.Untuk melihat hipotesa 4, atau interaksi atara pendekatan pembelajaran dan  motivasi terhadap hasil belajar digunakan Anava.








    




           
          
  







Tidak ada komentar:

Posting Komentar